Cara Cek Nama Brand di HAKI

Cara Cek Nama Brand di HAKI – Mengecek nama brand di HAKI menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum mendaftarkan merek resmi. Hal ini memastikan bahwa nama yang ingin digunakan tidak bentrok dengan merek lain yang sudah terdaftar, sehingga menghindari risiko penolakan permohonan. Proses pengecekan bisa dilakukan secara online melalui sistem resmi DJKI atau menggunakan jasa profesional untuk hasil yang lebih akurat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengecek nama brand:
1. Pastikan ejaan nama brand sudah final dan konsisten
2. Catat kelas barang/jasa yang ingin didaftarkan
3. Perhatikan kemiripan nama dengan merek terdaftar sebelumnya
4. Gunakan portal resmi DJKI agar data valid
5. Simpan bukti pencarian sebagai referensi

Dengan mengetahui status nama brand sejak awal, pelaku usaha bisa lebih yakin bahwa merek yang diajukan memiliki peluang diterima lebih tinggi, serta meminimalkan konflik hukum di masa depan.

Mengapa Perlu Mengecek Nama Brand di HAKI

Pengecekan nama brand di HAKI adalah langkah preventif yang sangat penting sebelum melakukan pendaftaran resmi. Nama brand yang sudah digunakan pihak lain atau terlalu mirip dapat menyebabkan penolakan oleh DJKI dan berpotensi menimbulkan sengketa hukum.

Beberapa alasan pentingnya pengecekan:
• Menghindari konflik hukum dan sengketa merek
• Menjamin keunikan dan eksklusivitas brand
• Memperkuat posisi brand di pasar
• Memudahkan proses pendaftaran merek HAKI
• Memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha

Dengan melakukan pengecekan nama brand, pelaku usaha memiliki informasi yang akurat mengenai status nama yang diinginkan, sehingga langkah berikutnya dalam pendaftaran bisa lebih efektif dan efisien.

Persiapan Data Sebelum Cek Nama Brand

Sebelum melakukan pengecekan nama brand di DJKI, penting untuk menyiapkan semua data dan dokumen pendukung. Persiapan ini mempermudah proses pencarian dan meminimalkan kesalahan dalam interpretasi hasil.

Beberapa data yang perlu dipersiapkan:
1. Nama brand lengkap dan ejaan final
2. Kelas barang atau jasa yang akan didaftarkan
3. Kategori produk secara spesifik
4. Informasi pemilik atau badan usaha
5. Catatan tentang kemiripan nama dengan merek lain

Dengan semua data siap, proses pengecekan nama brand menjadi lebih cepat dan akurat. Pelaku usaha bisa langsung mengetahui apakah brand tersebut aman untuk didaftarkan atau perlu dilakukan modifikasi.

Website Resmi DJKI untuk Pengecekan

Portal resmi DJKI, yaitu pdki-indonesia.dgip.go.id, menjadi sumber utama untuk mengecek nama brand yang ingin didaftarkan. Situs ini menyediakan informasi valid dan terupdate mengenai semua merek yang telah terdaftar di Indonesia.

Beberapa hal penting saat menggunakan portal DJKI:
1. Login dengan akun resmi atau gunakan akses publik
2. Masukkan nama brand yang ingin dicek pada kolom pencarian
3. Pilih kelas barang/jasa sesuai rencana pendaftaran
4. Periksa hasil pencarian dan catat kemiripan dengan merek lain
5. Simpan hasil pencarian sebagai referensi resmi

Menggunakan portal resmi DJKI memastikan informasi yang diperoleh sah dan dapat dijadikan dasar untuk langkah pendaftaran selanjutnya. Pelaku usaha juga bisa mengurangi risiko penolakan akibat nama brand yang sudah digunakan pihak lain.

Jasa Daftar Merek, Jasa Banding Merek, Jasa Pengalihan Merek, Jasa Perpanjang Merek
Jasa Daftar Merek, Jasa Banding Merek, Jasa Pengalihan Merek, Jasa Perpanjang Merek

Langkah-langkah Cek Nama Brand di DJKI

Mengecek nama brand di DJKI memerlukan prosedur yang tepat agar hasil pencarian akurat dan bisa dijadikan dasar pendaftaran. Proses ini bisa dilakukan secara online melalui portal resmi DJKI, yaitu pdki-indonesia.dgip.go.id, sehingga pelaku usaha dapat memeriksa status nama brand dengan cepat dan efisien.

Langkah-langkah pengecekan nama brand:
1. Login atau akses portal DJKI: Gunakan akun resmi atau akses publik untuk memulai pengecekan.
2. Masukkan nama brand: Ketik nama brand yang ingin dicek di kolom pencarian sesuai ejaan final.
3. Pilih kelas barang/jasa: Sesuaikan dengan kategori produk agar hasil pencarian relevan.
4. Periksa hasil pencarian: Lihat apakah ada merek yang sama atau mirip dengan brand yang diajukan.
5. Simpan hasil: Simpan screenshot atau catatan hasil pencarian sebagai referensi untuk pendaftaran.

Dengan mengikuti langkah ini, pelaku usaha dapat mengidentifikasi potensi konflik sejak awal. Selain itu, pencarian online ini juga membantu menentukan apakah nama brand aman untuk digunakan atau perlu disesuaikan sebelum mengajukan permohonan resmi ke DJKI.

Tips Membaca Hasil Pengecekan Nama Brand

Setelah melakukan pengecekan, membaca hasil pencarian dengan tepat sangat penting agar keputusan pendaftaran merek HAKI bisa akurat. Hasil ini menunjukkan apakah nama brand yang diajukan sudah terpakai, mirip dengan merek lain, atau sepenuhnya unik.

Beberapa tips membaca hasil pencarian:
• Periksa kesamaan huruf dan ejaan: Pastikan nama brand tidak terlalu mirip dengan merek lain.
• Perhatikan kelas barang/jasa: Nama yang sama bisa diterima jika berada di kelas berbeda, tetapi tetap perlu evaluasi risiko.
• Identifikasi merek terkenal: Hindari kemiripan dengan merek populer yang bisa menimbulkan penolakan.
• Catat merek serupa: Buat daftar merek yang memiliki kemiripan untuk pertimbangan modifikasi.
• Analisis potensi konflik: Tentukan apakah perlu mengubah nama atau melanjutkan proses pendaftaran.

Memahami hasil pencarian ini membantu pelaku usaha mengurangi risiko penolakan oleh DJKI dan mempersiapkan langkah selanjutnya dalam pendaftaran. Jika ragu, menggunakan jasa profesional seperti PERMATAMAS bisa mempercepat proses dan memastikan nama brand aman sebelum diajukan.

Alternatif Cek Nama Brand melalui Jasa Profesional

Selain pengecekan mandiri melalui portal DJKI, menggunakan jasa profesional seperti PERMATAMAS bisa menjadi solusi bagi pelaku usaha yang ingin memastikan nama brand aman dan proses pendaftaran lebih cepat. Jasa profesional memiliki pengalaman dalam menilai kemiripan nama, memahami kelas barang/jasa, serta meminimalkan risiko penolakan.

Beberapa keuntungan menggunakan jasa profesional:
1. Analisis kemiripan merek lebih akurat – Mereka bisa mengevaluasi risiko kesamaan dengan merek terdaftar.
2. Efisiensi waktu – Proses pengecekan lebih cepat dibandingkan dilakukan sendiri.
3. Panduan kelas barang/jasa yang tepat – Memastikan brand didaftarkan sesuai kategori yang benar.
4. Konsultasi strategi branding – Memberikan saran agar merek lebih kuat dan unik.
5. Persiapan dokumen profesional – Membantu menyiapkan data dan dokumen yang dibutuhkan DJKI.

Dengan bantuan profesional, pelaku usaha tidak hanya memeriksa nama brand, tetapi juga memperoleh panduan lengkap agar proses pendaftaran HAKI berjalan lancar. Ini sangat penting untuk menghindari kesalahan atau penolakan yang bisa menghambat pengembangan brand di pasar.

Langkah Selanjutnya Setelah Nama Brand Aman

Setelah nama brand terbukti aman dan belum terdaftar, langkah berikutnya adalah mempersiapkan pendaftaran merek HAKI secara resmi. Proses ini mencakup pengumpulan dokumen, pengisian formulir pendaftaran, dan pengajuan ke DJKI.

Tahapan penting yang perlu diperhatikan:
1. Siapkan dokumen perusahaan – Akta perusahaan, NPWP, izin usaha, dan dokumen pendukung lainnya.
2. Siapkan dokumen merek – Logo, nama brand, deskripsi produk, dan kelas barang/jasa.
3. Konsultasikan strategi pendaftaran – Pastikan brand didaftarkan dengan benar agar diterima DJKI.
4. Ajukan permohonan resmi – Pengajuan bisa dilakukan online melalui portal DJKI atau melalui jasa profesional.
5. Pantau status permohonan – Selalu cek perkembangan pendaftaran hingga diterbitkan sertifikat resmi.
6. Terima sertifikat merek HAKI – Bukti resmi yang melindungi hak kekayaan intelektual brand Anda.

Untuk memastikan proses lebih aman, cepat, dan sesuai prosedur, disarankan menggunakan jasa pengurusan brand HAKI di PERMATAMAS. Dengan pengalaman bertahun-tahun, PERMATAMAS membantu mulai dari pengecekan nama brand, persiapan dokumen, hingga penerbitan sertifikat resmi, sehingga pelaku usaha bisa fokus mengembangkan bisnis tanpa khawatir kendala hukum merek.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi Jawa Barat
Telp : 021-89253417
WA : 085777630555

FAQ

1. Apa itu HAKI?
HAKI adalah Hak Atas Kekayaan Intelektual yang melindungi merek, logo, dan identitas produk atau jasa secara legal.

2. Mengapa perlu cek nama brand sebelum daftar HAKI?
Agar menghindari konflik hukum, penolakan pendaftaran, dan kemiripan dengan merek terdaftar lain.

3. Di mana bisa cek nama brand HAKI?
Melalui portal resmi DJKI: pdki-indonesia.dgip.go.id.

4. Apa saja data yang perlu disiapkan sebelum cek nama brand?
Nama brand final, kelas barang/jasa, kategori produk, dan informasi pemilik atau perusahaan.

5. Bagaimana cara membaca hasil pengecekan nama brand?
Periksa kemiripan huruf, ejaan, kelas barang/jasa, merek terkenal, dan catat merek serupa untuk evaluasi risiko.

6. Apakah bisa cek nama brand sendiri tanpa jasa profesional?
Bisa, tetapi menggunakan jasa profesional seperti PERMATAMAS lebih cepat, akurat, dan mengurangi risiko penolakan.

7. Apa keuntungan menggunakan jasa profesional untuk cek nama brand?
1. Analisis kemiripan merek lebih tepat
2. Efisiensi waktu
3. Panduan pendaftaran sesuai kelas barang/jasa
4. Konsultasi strategi branding
5. Persiapan dokumen lengkap

8. Apa langkah setelah nama brand terbukti aman?
Persiapkan dokumen perusahaan dan merek, ajukan permohonan resmi ke DJKI, pantau status, dan terima sertifikat HAKI.

9. Berapa lama proses pendaftaran HAKI setelah nama brand aman?
Estimasi penerbitan bukti pendaftaran bisa 1 hari, sedangkan sertifikat resmi HAKI biasanya diterbitkan dalam 1 tahun.

10. Dapatkah saya mengurus pendaftaran brand HAKI melalui PERMATAMAS?
Ya, PERMATAMAS menyediakan layanan lengkap mulai dari pengecekan nama, persiapan dokumen, hingga penerbitan sertifikat resmi HAKI.

10 Penyebab Merek HAKI Ditolak

10 Penyebab Merek HAKI Ditolak – Pendaftaran merek HAKI merupakan langkah penting untuk melindungi identitas produk atau jasa dari peniruan pihak lain. Namun, tidak semua permohonan berhasil disetujui. Ada beberapa alasan mengapa merek HAKI bisa ditolak oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Memahami penyebab penolakan ini penting bagi pelaku usaha agar bisa mengajukan permohonan dengan peluang diterima lebih tinggi.

Beberapa penyebab umum penolakan merek HAKI meliputi:
• Merek terlalu umum atau deskriptif
• Sama atau mirip dengan merek terdaftar lain
• Bertentangan dengan norma, moralitas, atau hukum
• Menyesatkan konsumen
• Meniru simbol negara atau orang terkenal

Selain itu, merek yang diajukan harus unik dan dapat membedakan produk/jasa dari pesaing. Pelaku usaha disarankan untuk melakukan pengecekan di database DJKI sebelum mendaftar agar mengurangi risiko penolakan. Dengan memahami 10 alasan utama penolakan, proses pendaftaran merek HAKI bisa lebih terarah dan efisien.

1. Tidak Memiliki Daya Pembeda

Salah satu alasan paling umum merek HAKI ditolak adalah karena tidak memiliki daya pembeda. Merek yang terlalu umum atau hanya deskriptif dianggap tidak mampu menjadi identitas unik bagi produk atau jasa. Pemeriksaan ini penting agar konsumen dapat mengenali merek tertentu tanpa kebingungan dengan produk lain.

Beberapa contoh merek yang bisa ditolak karena kurang daya pembeda:
• Merek hanya menyebut jenis produk (misal: “Susu” untuk susu)
• Merek yang berupa nama generik atau istilah umum
• Simbol atau logo yang terlalu sederhana dan umum
• Kata-kata yang sudah sering digunakan dalam industri terkait
• Nama produk yang sama persis dengan istilah sehari-hari

Pelaku usaha harus menciptakan merek HAKI yang unik dan berbeda dari yang sudah ada. Merek dengan karakteristik yang jelas dan mudah diingat akan lebih mudah diterima oleh DJKI.

2. Sama atau Mirip dengan Merek Terdaftar Lain

Penolakan merek HAKI juga sering terjadi karena kemiripan dengan merek yang sudah terdaftar sebelumnya. Kemiripan ini bisa berupa keseluruhan atau pokok dari merek lain, terutama jika terkait dengan barang atau jasa sejenis. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mencegah konflik hukum dan kebingungan konsumen.

Beberapa indikator kemiripan yang bisa menyebabkan penolakan:
• Nama merek HAKI mirip dengan merek lain dalam satu kelas barang/jasa
• Logo atau desain visual yang menyerupai merek terdaftar
• Penggunaan kata atau simbol yang sudah dikenal luas
• Bentuk huruf, warna, atau kombinasi yang sangat mirip
• Penggunaan istilah internasional yang sudah didaftarkan pihak lain

Pemeriksaan awal sebelum mendaftar sangat dianjurkan agar pemohon dapat mengidentifikasi potensi konflik. Dengan strategi kreatif, pemohon bisa menyesuaikan merek HAKI agar tetap unik dan layak didaftarkan.

3. Bertentangan dengan Norma atau Hukum

Merek HAKI bisa ditolak jika dianggap bertentangan dengan norma, hukum, moralitas, atau ketertiban umum. Pemeriksaan ini mencakup aspek ideologi, agama, kesusilaan, dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Merek yang vulgar, menghina, atau menyinggung pihak tertentu akan secara otomatis ditolak.

Beberapa contoh alasan penolakan terkait norma/hukum:
1. Mengandung kata atau simbol yang menyinggung agama atau budaya
2. Melanggar moralitas dan kesusilaan umum
3. Bertentangan dengan ideologi negara atau aturan pemerintah
4. Mengandung unsur kekerasan atau diskriminasi
5. Merek yang merugikan ketertiban umum atau keamanan

Pemohon harus memastikan merek HAKI yang diajukan sesuai dengan etika, norma hukum, dan nilai sosial agar bisa diterima DJKI. Memahami regulasi ini membantu pelaku usaha mencegah penolakan yang tidak perlu dan mempercepat proses pendaftaran.

4. Menyesatkan Konsumen

Salah satu alasan merek HAKI ditolak adalah karena berpotensi menyesatkan konsumen. Merek yang memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat produk/jasa dianggap merugikan konsumen dan bertentangan dengan prinsip perdagangan yang adil.

Pemeriksaan ini memastikan bahwa setiap merek yang didaftarkan dapat dipercaya dan tidak menimbulkan kebingungan.

Beberapa indikasi merek menyesatkan konsumen:
1. Klaim manfaat produk yang tidak terbukti secara ilmiah
2. Informasi kualitas yang tidak sesuai dengan kenyataan
3. Menyebutkan bahan atau kandungan yang tidak ada pada produk
4. Menggunakan kata “100% aman” atau “100% asli” tanpa dasar
5. Memberi kesan palsu bahwa produk memiliki sertifikasi tertentu

Pemohon harus memastikan merek HAKI yang diajukan menyampaikan informasi akurat, jujur, dan tidak menipu. Dengan pendekatan yang transparan, risiko penolakan dapat dikurangi dan merek lebih dipercaya oleh konsumen.

Jasa Daftar Merek, Jasa Banding Merek, Jasa Pengalihan Merek, Jasa Perpanjang Merek
Jasa Daftar Merek, Jasa Banding Merek, Jasa Pengalihan Merek, Jasa Perpanjang Merek

5. Menyerupai Simbol Negara atau Lembaga Resmi

Penggunaan lambang negara, bendera, atau simbol lembaga resmi tanpa izin merupakan alasan kuat merek HAKI ditolak. DJKI memeriksa setiap permohonan untuk memastikan tidak ada pelanggaran terhadap simbol resmi yang dilindungi undang-undang. Hal ini penting untuk menjaga kehormatan simbol negara dan kredibilitas lembaga.

Beberapa contoh penggunaan simbol yang bisa menyebabkan penolakan:
• Meniru lambang negara atau bendera nasional
• Menggunakan simbol resmi kementerian atau lembaga pemerintah
• Mengadopsi logo partai politik atau organisasi resmi
• Memanfaatkan emblem militer atau kepolisian
• Meniru tanda resmi lembaga pendidikan atau asosiasi profesi

Memahami regulasi ini membantu pelaku usaha menyesuaikan desain merek HAKI, sehingga tidak melanggar hukum dan meningkatkan peluang diterima DJKI.

6. Menyerupai Nama atau Foto Orang Terkenal

Merek HAKI yang menggunakan nama, foto, atau identitas orang terkenal tanpa izin juga rentan ditolak. Hal ini karena melanggar hak pribadi dan hak kekayaan intelektual pihak lain. Pemeriksaan DJKI memastikan hak individu terlindungi dari penyalahgunaan merek.

Contoh penggunaan yang bisa menyebabkan penolakan:
• Nama selebriti atau tokoh publik tanpa izin
• Foto atau siluet orang terkenal pada logo atau kemasan
• Nama badan hukum milik orang lain tanpa persetujuan
• Penggunaan identitas influencer untuk promosi produk
• Nama tokoh sejarah yang masih dilindungi hak cipta

Pemohon sebaiknya menciptakan merek HAKI yang orisinal dan bebas dari unsur pihak ketiga untuk menghindari sengketa hukum.

7. Nama Varietas Tanaman Terlindungi

Merek HAKI yang berupa nama varietas tanaman yang sudah dilindungi juga bisa ditolak. Tujuan aturan ini adalah untuk melindungi hak pemilik varietas dan mencegah kebingungan di pasar, terutama untuk barang/jasa sejenis.

Beberapa poin penting terkait penolakan:
1. Nama varietas tanaman yang sudah dipatenkan atau dilindungi
2. Digunakan pada produk yang sejenis dengan tanaman tersebut
3. Tidak ada izin resmi dari pemilik hak varietas
4. Dapat menimbulkan klaim hukum dari pemilik varietas
5. Berisiko menyesatkan konsumen tentang sumber produk

Dengan memahami hal ini, pelaku usaha dapat memilih merek HAKI yang aman, unik, dan sesuai aturan hukum, sehingga peluang diterima DJKI lebih tinggi.

8. Hanya Sebutan Produk atau Jasa

Salah satu alasan merek HAKI ditolak adalah jika hanya berupa sebutan langsung dari produk atau jasa yang ditawarkan. Merek yang deskriptif tidak dianggap unik dan tidak dapat membedakan produk Anda dari pesaing lain. Hal ini penting agar konsumen dapat mengenali merek tertentu tanpa kebingungan.

Beberapa contoh merek yang bisa ditolak karena bersifat deskriptif:
• Nama produk yang sama dengan jenis barang (misal: “Jus Jeruk”)
• Merek yang hanya menjelaskan fungsi produk
• Kata-kata generik yang sudah banyak digunakan industri
• Nama yang mengandung istilah umum untuk jasa tertentu
• Desain logo yang terlalu sederhana tanpa karakter pembeda

Pemohon disarankan untuk menciptakan merek HAKI yang unik, kreatif, dan berbeda dari istilah umum agar lebih mudah diterima DJKI. Merek yang orisinal memberikan keuntungan kompetitif sekaligus perlindungan hukum yang maksimal.

9. Mirip dengan Merek Terkenal

Kemiripan dengan merek HAKI terkenal milik pihak lain, bahkan untuk barang atau jasa yang berbeda, dapat menyebabkan penolakan. DJKI menilai kemiripan ini bisa menimbulkan kebingungan di masyarakat atau dianggap meniru reputasi merek terkenal.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan penolakan:
1. Nama merek mirip dengan merek terkenal meski berbeda kelas
2. Logo atau desain menyerupai merek terkenal
3. Warna, huruf, atau simbol yang meniru karakter merek populer
4. Menggunakan slogan atau tagline yang sudah terkenal
5. Memberi kesan bahwa produk terkait dengan merek terkenal

Memahami risiko ini penting agar pemohon menciptakan merek HAKI yang unik dan tidak menyerupai merek lain yang sudah memiliki reputasi. Strategi branding yang kreatif akan memudahkan proses pendaftaran dan melindungi merek secara legal.

10. Beritikad Tidak Baik

Permohonan merek HAKI dengan itikad tidak baik, seperti meniru merek lain yang sudah dikenal atau dimaksudkan untuk menipu konsumen, juga akan ditolak. DJKI memastikan setiap pendaftaran dilakukan dengan niat yang jujur dan fair.

Beberapa contoh indikasi permohonan beritikad tidak baik:
• Meniru merek lain yang sudah terkenal secara sengaja
• Mengubah sedikit nama/logo tetapi tetap menyerupai merek lain
• Menggunakan merek untuk menipu konsumen agar mengira produk terkait merek lain
• Memanfaatkan popularitas merek lain untuk keuntungan sendiri
• Mengajukan merek dengan niat untuk memblokir kompetitor

Dengan memastikan merek HAKI diajukan dengan itikad baik dan orisinal, pemohon dapat mengurangi risiko penolakan dan memperoleh perlindungan hukum penuh atas merek mereka.
Untuk proses pendaftaran yang cepat, aman, dan profesional, Anda dapat mengurus merek HAKI di PERMATAMAS, layanan yang berpengalaman membantu setiap langkah mulai dari persiapan dokumen hingga sertifikat resmi.

KONSULTASI GRATIS

PERMATAMAS
Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi Jawa Barat
Telp : 021-89253417
WA : 085777630555

FAQ

1. Apa itu merek HAKI?
Merek HAKI adalah identitas resmi produk atau jasa yang dilindungi secara hukum oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

2. Mengapa merek HAKI bisa ditolak?
Merek bisa ditolak karena kurang daya pembeda, meniru merek lain, bertentangan hukum, menyesatkan konsumen, atau beritikad tidak baik.

3. Apakah merek yang deskriptif bisa diterima?
Tidak, merek yang hanya berupa sebutan produk/jasa (deskriptif) dianggap tidak unik dan berisiko ditolak.

4. Bagaimana jika merek mirip merek terkenal?
Kemiripan dengan merek terkenal, meski untuk produk berbeda, dapat menyebabkan penolakan oleh DJKI.

5. Apakah penggunaan nama orang terkenal diperbolehkan?
Tidak, menggunakan nama atau foto orang terkenal tanpa izin akan ditolak.

6. Bagaimana dengan simbol negara atau lembaga resmi?
Penggunaan lambang negara, bendera, atau simbol lembaga resmi tanpa izin adalah alasan penolakan merek HAKI.

7. Apa yang dimaksud dengan merek beritikad tidak baik?
Merek diajukan dengan niat meniru, menipu konsumen, atau memanfaatkan reputasi merek lain.

8. Apakah merek yang menyesatkan konsumen bisa diterima?
Tidak, merek yang memberikan klaim palsu atau informasi menipu tentang produk/jasa akan ditolak.

9. Bagaimana cara membuat merek HAKI diterima?
Pastikan merek unik, orisinal, tidak meniru pihak lain, sesuai norma hukum, dan tidak menyesatkan konsumen.

10. Apakah ada jasa pengurusan merek HAKI profesional?
Ya, jasa profesional seperti PERMATAMAS Indonesia dapat membantu pendaftaran merek HAKI agar aman, cepat, dan legal.

PERMATAMAS INDONESIA

Jasapendaftaranmerek.com adalah layanan pengurusan pendaftaran merek, sanggah merek, pengalihan merek, banding merek resmi di Indonesia

KONTAK KAMI

Alamat : Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Pejuang, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat

Telp : 021-89253417
WA : 085777630555

Copyright @ 2023 – Jasa Pendaftaran Merek – Support DokterWebsite.ID